Uncategorized

Misteri 184 Korban KM Sinar Bangun yang Hilang dan Dugaan Penyebab Sulit Ditemukan

Misteri 184 Korban KM Sinar Bangun yang Hilang dan Dugaan Penyebab Sulit Ditemukan

Infosuhu – Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan atau Basarnas Marsekal Madya TNI M Syaugi mengatakan pihaknya fokus mencari keberadaan badan Kapal Motor Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Toba.

Syaugi menduga korban yang hilang terjebak di dalam badan kapal.

“Kemungkinan orang-orang masih banyak yang di dalam kapal, makanya kita mencari kapal itu. Karena sampai 4 hari kita mencari di permukaan hanya menemukan tiga orang itu (korban meninggal),” kata Syaugi di Posko Terpadu Kecelakaan KM Sinar Bangun, Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (22/6/2018).

Hingga Kamis ini, berdasarkan data dari Kantor SAR Medan, angka korban selamat, meninggal dunia dan hilang belum bertambah. Adapun rinciannya terdiri dari 19 orang selamat, 3 orang meninggal dunia, dan 184 orang masih dalam pencarian.

“Kami belum mendapatkan korban lain lagi sampai hari ini, sampai sekarang kita juga masih menunggu manifes yang betul itu berapa, karena masih simpang siur,” kata Syaugi.

“Namun tim Basarnas dengan tim lain tetap akan serius dan semangat untuk mencari korban-korban,” sambung dia.

Syaugi sebelumnya menyebutkan sejumlah tantangan dalam proses pencarian. Pertama, Danau Toba memiliki kedalaman sekitar 300 hingga 500 meter. Airnya pun keruh dan sangat dingin, yang menjadi tantangan tersendiri dalam proses penyelaman.

“Di dalam sudah diselami sampai 50 meter masih belum ditemukan apa-apa karena cukup gelap di dalam. Airnya keruh dan dingin sekali,” ujar Syaugi dalam konferensi pers di Posko Nasional Angkutan Lebaran 2018 di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Kamis (21/6/2018).

Syaugi mengungkapkan, tim penyelam pun sudah menggunakan senter untuk mencari korban di dalam air. Akan tetapi, senter tersebut hanya bisa menjangkau jarak pandang 5 meter.

“Kendala yang dihadapi apa? Pertama, cuaca di situ, bila hujan. Dinginnya air. Menyelam pada malam hari bisa dibayangkan betapa dinginnya,” jelas Syaugi.

Syaugi menegaskan, proses pencarian akan dilakukan selama 7 hari. Jika seluruh korban belum ditemukan, pencarian akan ditambah 3 hari lagi.

“Setelah 10 hari kalau masih belum ditemukan dan ada kemungkinan bisa ditemukan kita akan lanjut,” kata dia.

KM Sinar Bangun tenggelam pada Senin (18/6/2018) pukul 17.15. Kapal motor tersebut tenggelam setelah meninggalkan dermaga sejauh 500 meter.

Pada saat peristiwa itu terjadi, cuaca dalam kondisi hujan deras disertai angin kencang dan petir. Ketinggian gelombang diperkirakan hingga mencapai 2 meter.

Selain upaya pencarian korban, aparat mengusut orang-orang yang terjerat pidana di kasus tenggelamnya KM Sinar Bangun.

Berikut fakta terkini lainnya dari lokasi pencarian korban KM Sinar Bangun yang dirangkum Infosuhu.com:

1. Tahan 2 ABK Ditahan

Kapolres Simalungun AKBP Marudut Liberty Panjaitan menuturkan bahwa hingga saat ini, 21 korban telah berhasil ditemukan. 18 korban berstatus selamat dan 3 meninggal dunia.

Dua korban diantaranya sudah berhasil diidentifikasi. Serta satu lagi masih ditangani di RSUD Tuan Ronda Haim Pematang Raya.

Hingga kini belum diketahui pasti jumlah total penumpang di KM Sinar Bangun.

“Ada yang aneh dalam pengungkapan kasus tenggelamnya KM Sinar Bangun. Karena dalam daftar korban yang selamat maupun yang hilang, nama Nahkoda tidak ditemukan. Tapi Nakhoda sampai saat ini masih berada di darat,” ungkap Marudut di posko pengaduan Pelabuhan Tigaras, Kamis (21/6/2018) kemarin.

Kapolres Marudut menyebutkan 3 nama ABK yang selamat yang tidak ada namanya di daftar korban, yaitu Poltak Tua Sagala, Reider Malau, dan Jenapia Aritonang.

“Dari ketiga ABK tersebut posisinya sebagai sebagai kapten kapal sekaligus owner,”

Marudut juga menjelaskan bahwa dalam peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun ada seorang ABK lainnya masih hilang yakni Jaya Sidauruk.

Tak menutup kemungkinan para ABK yang selamat dijadikan tersangka. Kata Marudut, ketiga ABK tersebut telah ditahan di Polres Samosir dalam rangka penyelidikan.

3. Keberadaan Nahkoda?

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian saat ditemui di lokasi evakuasi di Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun mengatakan, penyebab tenggelamnya KM Sinar Bangun masih terus diselidiki.

“Yang pertama akan di jadikan tersangka tentu Nakhoda, karena Manifest, life jaket tidak ada. Apalagi kebetulan pemiliknya Nakhoda itu sendiri, tentu dia bisa jadi tersangka,” kata Tito.

Saat ini kata Kapolri, nakhoda telah diamankan di Polres Samosir dalam rangka penyelidikan.

Kapolri sempat bertanya kepada Kapolres Simalungun, AKBP Marudut Liberty Panjaitan, “apakah Nakhoda ikut dalam rombongan kapal tersebut saat kejadian? Marudut mengatakan, bahwa nahkoda ikut saat kejadian.

“Nakhoda ikut dalam penyebrangan dan selamat dan ia termasuk dalam 18 korban yang selamat,” ucap Marudut.

Tentu jawaban Kapolres Simalungun ini sangat bertolak belakang dengan keterangan yang Marudut berikan di saat sebelumnya, bahwa dia mengatakan, nakhoda tidak ada dalam KM Sinar Bangun saat kejadian, melainkan di darat. Padahal sudah jelas, dari data 18 korban yang selamat di lapangan, tidak ada satupun nama nakhoda Poltak Tua Sagala dalam daftar nama korban selamat.

3. Instruksi Panglima TNI dan Kapolri

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian turun langsung untuk melihat kondisi terkini di Danau Toba, Kamis (21/6/2018).

Tiba di lokasi, kedua Jenderal bintang empat ini langsung memberikan instruksi kepada jajarannya.

Berikut instruksi kedua jenderal tersebut:

1. Kepolisian akan mencari tahu terlebih dahulu, berapa orang yang hilang karena data belum valid. Untuk mengetahui jumlah penumpang yang masuk ke pelabuhan, maka bisa dilihat dari tag, karena setiap orang diduga dipungut biaya Rp 1.000,- per orang. Dari sini akan dicari tahu berapa jumlah uang yang didapatkan dan sesuai keterangan dari korban selamat. Sehingga bisa diyakinkan jumlah korban berapa, sehingga tidak simpang siur. Karena permasalahannya kapal ini tidak dilengkapi dengan manifest

2. Basarnas akan terus melakukan pencarian, dengan berpedoman pada jumlah korban hilang yang terdata sementara, karena pencarian sudah dilakukan dipermukaan dengan SOP yang dimiliki Basarnas.

3. Akan menyiapkan beberapa unit alat canggih lagi yang akan di perbantukan. Karena untuk menentukan di mana titik kapal berada dari permukaan, hal itu memerlukan alat canggih yang didatangkan dari Jakarta sore hari ini. “Kita akan datangkan Multibeam Side Scan Sonar, yaitu alat yang mampu mendeteksi 500-600 Meter didalam air milik Angkatan Laut,” kata Hadi di di Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Kamis (21/6/2018).

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto|InfoSuhu.com

4. Setelah letak kapal bisa ditentukan, akan dilanjutkan dengan melakukan teknik mengambil korban. Entah menggunakan jangkar atau dengan teknik yang lain.

5. Apabila kapal tersebut karam melebihi kedalaman 50 meter, tim Basarna tidak bisa mengandalkan penyelam. “Penyelam hanya mampu menyelam paling jauh kedalaman 50 meter,” ujar Panglima Hadi.

6. Menginstruksikan agar menggunakan alat untuk mengambil korban di kedalaman yang tidak terjangkau. Jadi apabila korban yang ada didalam kapal keluar kemudian menyangkut di antara ganggang dan bisa ditemukan lokasinya, maka akan dilakukan pengambilan menggunakan alat.

7. Operasi pengambilan korban hilang tidak batasi sampai jam 18.00 WIB. Apabila kapal posisinya sudah ditemukan, akan kerahkan lighting di tengah danau untuk memberikan penerangan pada tim SAR untuk mengambil korban.

8. Pagi Ini, Jumat (22/6/2018) akan mendatangkan satu pesawat dari Basarnas untuk menyisir di setiap sudut pantai di Danau Toba, yang kemungkinan korban tersebut terbawa arus.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian. |InfoSuhu.com

Sebagaimana diketahui, atas kejadian tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Senin (18/6/2018) lalu, telah mengorbankan 200 orang penumpang, di antaranya 18 orang selamat dan 3 orang meninggal.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *